Definis
Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah(hiperglikemia) akibat kerusakan pada sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya (smelzel dan Bare,2015). Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit atau gangguan metabolik dengan karakteristik hipeglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi urin, kerja insulin, atau kedua – duanya (ADA,2017)
Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit kronik yang terjadi ketika pankreas tidak cukup dalam memproduksi insulin atau ketika tubuh tidak efisien menggunakan insulin itu sendiri. Insulin adalah hormon yang mengatur kadar gula darah. Hiperglikemia atau kenaikan kadar gula darah, adalah efek yang tidak terkontrol dari diabetes dan dalam waktu panjang dapat terjadi kerusakan yang serius pada beberapa sistem tubuh, khususnya pada pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner), mata (dapat terjadi kebutaan), ginjal (dapat terjadi gagal ginjal) (WHO, 2011)
Diabetes Mellitus (kencing manis) adalah suatu penyakit dengan peningkatan glukosa darah diatas normal. Dimana kadar diatur tingkatannya oleh hormon insulin yang diproduksi oleh pancreas (Shadine, 2010)
B. Anatomi Fisiologi
Menurut Gonzaga.B (2010), prankreas terletak melintang dibagian atas abdomen dibelakang glaster didalam ruang retroperitonial. Disebelah kiri ekor prankreas mencapai hiluslinpa diarah kronio dorsal dan bagian kiri atas kaput prankreas dihubungkan dengan corpus oleh leher prankreas yaitu bagian prankreas yang lebar biasanya tidak lebih dari 4 cm, arteri dan vena mesentrika superior berada dibagian kiri prankreas ini disebut processus unsinatis prankreas.
Menurut Gonzaga Prankreas terdiri dari 2 jaringan utama yaitu:
1. Asinus yang menyekresi getah pencernaan ke duodenum. 2. Pulau langerhans yang tidak mengeluarkan sekretnya keluar, tetapi menyekresi insulin dan glukagon langsung ke darah.Pulau langerhans manusia mengandung tiga jenis sel utama yaitu sel alfa,beta dan delta yang satu sama lain dibedakan dengan struktur dan sifat pewarnaannya. Sel beta mengekresi insulin, sel alfa mengekresi glukagon, dan sel-sel delta mengekresi somatostatin.
Pankreas disebut sebagai organ rangkap, mempunyai 2 fungsi yaitu sebagai kelenjer eksokrin dan kelenjer endokrin. Fungsi eksokrin menghasilkan sekret yang mengandung enzim yang dapat menghidrolisis protein, lemak, dan karbohidrat, sedangkan endokrin menghasilkan hormon insulin dan glucagon yang memegang peranan penting pada metabolisme karbohidrat. Kelenjer prankreas dalam mengatur metabolisme glukosa dalam tubuh berupa hormon
hormon yang disekresikan oleh sel-sel di pulau langerhans. Hormon ini dapat diklasifikasikan sebagai hormon yang merendahkan kadar glukosa darah yaitu insulin dan hormon yang dapat meningkatkan glukosa darah yaitu glukagon.
Menururt Gonzaga (2010) ,Prankreas dibagi menurut bentuk nya
1. Kepala (kaput) merupakan bahagian paling besar terletak di sebelah kanan umbilical dalam lekukan duodenum.\
2. Badan (korpus) merupakan bagian utama organ itu letaknya sebelah lambung dan depan vertebra lumbalis pertama
3. Ekor(kauda) adalah bagian runcing sebelah kiri, dan yang sebenarnya menyentuh lympa
Bagian-bagian pancreas
1. Pulau Langerhans
Pulau langerhans mengandung 3 jenis sel utama yakni sel-alfa, sel beta dan sel delta. Sel beta mencakup kira kira 60% dari semua sel terletak terutama ditengah setiap pulau dan mensekresikan insulin.granula sel Bmerupakan bungkusan insulin dalam sitoplasma sel. Tiap bungkusan bervariasi antara spesies 1 sengan yang lain. Dalam sel B, muloekus insulin membentuk polimer komplek dengan seng. Perbedaan dalam bentuk bungkusan ini mungkin karena perbedaan ukuran polimer atau akregat sel dari isulin. Insulin disintesis dalam retikulum endoplasma sel B, kemudian diangkut ke aparatus kolgi, tempat ini dibungkus didalam granula yang diikat membran. Kranula ini bergerak ke dinding sel oleh suatu proses yang sel mengeluarkan insulin kedaerah luar gengang exsosotosis. Kemudian insulin melintasi membran basalis sel B serta kapiler berdekatan dan endotel fenestra kapiler untuk mencapai aliran darah. Sel alfa yang mencakup kira kira 25% dari seluruh sel mensekresikan glukagon. Sel delta yang merupakan 10% dari seluruh sel yang mensekresikan somatostatin.
2. Hormon Insulin
Insulin terdiri dari dua rantai asam amino satu sama lain dihubungkan oleh ikatan disulfide. Sekresi insulin diatur oleh glukosa darah dan asam amino yang memegang peran penting. Perangsang adalah glukosa darah. Kadar glukosa darah 80-90 mg/ml.
(Gongzaga 2010) Efek utama insulin terhadap metabolisme karbohidrat :
a. Manambah kecepatan metabolisme glukosa
b. Mengurangi kosentrasi gula darah
c. Menambah penyimpanan glukosa ke jaringan
3. Glukagon
Glukagon adalah suatu hormon yang disekresikan oleh sel sel alfa pulau langerhans mempunyai beberapa fungsi berlawanan dengan insulin fungsi terpenting adalah meningkatkan kosentrasi glukosadalam darah. (Biologi Gongzaga 2010)
Dua efek glukagon pada metabolisme glukosa darah
a. Pemecahan glikagon (glikogenolisis)
b. Peningkatan glikogen (glikogenesis) Menurut Smelzer 2015, Diabetes melitus disebabkan olehrusak langerhans pada prankreas yang berfungsi menghasilkan akibatnya kekurangan insun
C. Etiologi
Hasdianah (2012) menyatakan bahwa etiologi penyakit DM adalah:
1. Kelainan genetic
DM dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Gen penyebab DM akan dibawah oleh anak jika orang tuanya menderita diabetes mellitus. 2. Usia
Usia seseorang setelah >40 tahun akan mengalami penurunan fisiologis. Penurunan ini yang akan beresiko pada penurunan fungsi endokrin pancreas untuk memproduksi insulin.
3. Pola hidup dan pola makan
Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang dibutuhkan oleh tubuh dapat memicu timbulnya diabetes. Pola hidup juga sangat mempengaruhi, jika orang malas berolahraga memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena diabetes, karena olahraga berfungsi untuk membakar kalori yang berlebihan di dalam tubuh.
4. Obesitas
Seseorang dengan berat badan >90 kg cenderung memiliki peluang lebih besar untuk terkena penyakit DM.
5. Gaya hidup stress
Stres akan meningkatkan kerja metabolisme dan meningkatkan kebutuhan akan sumber energi yang berakibat pada kenaikan kerja pankreas sehingga pankreas mudah rusak dan berdampak pada penurunan insulin.
6. Penyakit dan infeksi pada pancreas
Mikroorganisme seperti bakteri dan virus dapat menginfeksi pankreas sehingga menimbulkan radang pankreas. Hal itu menyebabkan sel beta (β) pada pankreas tidak bekerja secara optimal dalam mensekresi insulin.
7. Obat-obatan yang dapat merusak pancreas
Bahan kimia tertentu dapat mengiritasi pankreas yang menyebabkan radang pankreas. Peradangan pada pankreas dapat menyebabkan pankreas tidakberfungsi secara optimal dalam mensekresikan hormon yang diperlukan untuk metabolisme dalam tubuh, termasuk hormon insulin
D. Manifestasi klini
Manifestasi Klinis utama DM berupa:
1. Kadar gula darah meningkat
Dikarenakan kerusakan sel betha pankreas yang mengakibatkan insulin tidak dapat diproduksi dengan demikian gula darah tidak dapat masuk dalam sel sehingga terjadi penumpukan gula darah atau disebut juga dengan Hiperglikemia (Semiardji, 2012)
2. Poliuria
Disebut juga dengan kencing yang berlebihan disebabkan karena kadar gula darah tidat dapat masuk dalam sel dan terjadi penumpukan gula dalam darah (Hiperglikemia) maka ginjal akan bekerja untuk menskresi glukosa kedalam urin yang mengakibatkan dieresis osmotik yang memicu gangguan sering berkemih (Laniwati, 2012).
3. Polifagia (Makan yang berlebihan
Pada Saat berkemih kalori yang berada dipembuluh darah akan ikut hilang terbawa air kemih, penderita mengalami penurunan berat badan, untuk mengkompensasi hal ini penderita sering merasa lapar yang luar biasa (Perkeni, 2015).
4. Polidipsia (peningkatan rasa haus)
Disebabkan jumlah urin yang sangat besar dan keluarnya air yang menyebabkan dehidrasi extrasel. intrasel mengikuti dehidrasi extrasel karena air intrasel akan berdifusi keluar sel mengikuti penurunan gradient konsentrasi keplasma yang hipertonik (sangat pekat). Dehidrasi intrasel merangsang pengeluaran ADH (antidiuretic hormon) dan menimbulkan rasa haus (Hotma, 2014)
Menurut Hasdianah (2012) Manifestasi lain yang berlangsung berlahandari beberapa hari hingga beberapa minggu yaitu:
1. Rasa tebal dikulit
2. Kesemutan
3. Gatal
4. Mata kabur
5. Mudah mengantuk
6. Kulit terasa panas atau seperti di tusuk-tusuk jarum
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan didapatkan adanya glukosa urine/pemeriksaan dilakukan dengan cara benedict(reduksi).
2. Kadar glukosa darah
Pemeriksaan darah meliputi : pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS) nilai normal 100-126 mg/dl, gula darah puasa 70-<100 mg/dl. Dan gula darah 2 jam post pradial <180 mg/dl (Subekti, 2012).
3. Pemeriksaan fungsi tiroid
Pemeriksaan aktifitas hormon tiroid meningkatkan glukosa darah dan kebutuhan insulin (Srihartini, 2014)
F. Komplikasi
1. Komplikasi Akut
a. Hipoglikemia, yaitu kadar gula dalam darah berada dibawah nilai normal < 50 mg/dl
b. Hiperglikemia, yaitu suatu keadaan kadar gula dalam darah meningkat secara tiba–tiba dan dapat berkembang menjadi metabolisme yang berbahaya
2. Komplikasi Kronis
a. Komplikasi makro vaskuler, yang biasanya terjadi pada pasien DM adalah pembekuan darah di sebagian otak, jantung koroner, stroke, dan gagal jangung kongestif.
b. Komplikasi mikro vaskuler, yang biasanya terjadi pada pasien DM adalah nefropati, diabetik retinopati (kebutaan), neuropati, dan amputasi (Perkeni, 2015).
G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan diabetes dititikberatkan pada 4 pilar penatalaksanaan diabetes, yaitu edukasi, terapi gizi medis, latihan jasmani, dan intervensi farmakologis.
1. Edukasi
Tim kesehatan mendampingi pasien dalam perubahan perilaku sehat yang memerlukan partisipasi efektif dari klien dan keluarga klien. Tujuan utama dari pemberian edukasi pada pasien DM dan juga pada keluarga adalah harapan diamana pasien dan keluarga akan mengerti bagaimana cara penanganan yang tepat dilakukan pada pasien DM. Edukasi pada pasien bisa dilakukan meliputi pemantauan kadar gula darah, perawatan luka, kepatuhan dalam pengansumsian obat, peningkatan aktivitas fisik, pengurangan asupan kalori dan juga pengertian serta komplikasi dari penyakit tersebut (Suzanna, 2014)
2. Terapi Gizi Medis
Pasien DM harus mampu memenuhi prinsip 3J pada dietnya, meliputi (jumlah makanan yang dikonsumsi, jadwal diet yang ketat dan juga jenis makanan apa yang dianjurkan dan pantangan makannya) (Rendy, 2012) 3. Olahraga
Olahraga secara teratur 3-4x dalam seminggu kurang lebih 30 menit (Suzanna, 2014).
4. Intervensi farmakologis
Berupa pemberian obat Hipoglikemik oral (sulfonilurea, biguanid/metformin, inhibitor alfa glukosidase dan insulin) (Ernawati, 2013).
A. Pengkajian Keperawatan
1. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan nyeri, kesemutan pada esktremitas, luka yang sukar sembuh Sakit kepala, menyatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi, letargi, koma dan bingung.
b. Riwayat kesehatan lalu
Biasanya klien DM mempunyai Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti Infark miokard
c. Riwayat kesehatan keluarga
Biasanya Ada riwayat anggota keluarga yang menderita DM
2. Pengkajian Pola Gordon
a. Pola persepsi
Pada pasien gangren kaki diabetik terjadi perubahan persepsi dan tatalaksana hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gangren pada kaki diabetik, sehingga menimbulkan persepsi negatif terhadap diri dan kecendurangan untuk tidak mematuhi prosedurpengobatan dan perawatan yang lama,lebih dari 6 juta dari penderita DM tidak menyadari akan terjadinya resiko kaki diabetik bahkan mereka takut akan terjadinya amputasi (Debra Clair,Jounal Februari 2012)
b. Pola nutrisi metabolik
Akibat produksi insulin yang tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan sering kencing,
banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan metabolisme yang dapat mempengarui status kesehatan penderita. Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek, mual muntah.
c. Pola eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang menyebabkan pasien sering kencing(poliuri) dan pengeluaran glukosa pada urine(glukosuria). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.
d. Pola ativitas dan latihan
Kelemahan, susah berjalan dan bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan tidur, tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan bahkan sampai terjadi koma. Adanya luka gangren dan kelemahanotot otot pada tungkai bawah menyebabkan penderita tidak mampu melakukan aktivitas sehari hari secara maksimal, penderita mudah mengalami kelelahan.
e. Pola tidur dan istirahat
Istirahat tidak efektif adanya poliuri, nyeri pada kaki yang luka, sehingga klien mengalami kesulitan tidur
f. Kongnitif persepsi
Pasien dengan gangren cendrung mengalami neuropati/ mati rasa pada luka sehingga tidak peka terhadap adanya nyeri. Pengecapan mengalami penurunan, gangguan penglihatan.
g. Persepsi dan konsep diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh menyebabkan penderita mengalami gangguan pada gambaran diri. Luka yang sukar sembuh, lamanya perawatan, banyaknya baiaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem)
3. Pemeriksaan fisik
a. Pemeriksaan Vital Sign
Yang terdiri dari tekanan darah, nadi, pernafasan, dan suhu. Tekanan darah dan pernafasan pada pasien dengan pasien DM bisa tinggi atau normal, Nadi dalam batas normal, sedangkan suhu akan mengalami perubahan jika terjadi infeksi. b. Pemeriksaan Kulit
Kulit akan tampak pucat karena Hb kurang dari normal dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit akan tidak elastis. kalau sudah terjadi komplikasi kulit terasa gatal. c. Pemeriksaan Kepala dan Leher
Kaji bentuk kepala, keadaan rambut biasanya tidak terjadi pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar getah bening, dan JVP (Jugularis Venous Pressure) normal 5-2 cmH2. d. Pemeriksaan Dada (Thorak)
Pada pasien dengan penurunan kesadaran acidosis metabolic pernafasan cepat dan dalam.
e. Pemeriksaan Jantung (Cardiovaskuler)
Pada keadaan lanjut bisa terjadi adanya kegagalan sirkulasi.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah b.d gangguan toleransi glukosa darah d.d pasien mengatakan lemas dan cepat merasah lelah
2. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis d.d Pasien mengatakan nyeri pada area telapak kaki dan jari kaki yang luka.
3. Gangguan integritas kulit/jaringan b.d penurunan mobilitas d.d Pasien mengatakan daerah telapak kakinya bengkak, dan merah juga ada luka dijari tengah kaki kirinya 4. Risiko Infeksi d.d penyakit kronis (diabetes melitus), Tekanan darah: 130/60 mmHg,
di lengan kanan, Nadi: 65x/ menit, di arteri radialis, teratur, Suhu: 38,0C per axilla, Pernafasan: 24x/ menit. Jenis pernafasan spontan, HR 65x/ menit kuat teratur. Pasien mengatakan bengkak, merah pada area telapak kaki sebelah kiri, dan ada luka dijari tengah kaki kiri nya.
5. Perfusi perifer tidak efektif b.d penurunan konsentrasi hemoglobin d.d kadar hemoglobin 7,4 g/dl, Tekanan darah: 130/60 mmHg, di lengan kanan, Nadi: 65x/ menit, di arteri radialis, teratur, Suhu: 38,0C per axilla, Pernafasan: 24x/ menit. Jenis pernafasan spontan, HR 65x/ menit kuat teratur, Terpasang O2 binasal kanul 3 liter/ menit.
No | Diagnosa Keperawatan | Perencanaan |
Tujuan | Intervensi | Rasional |
1. | Ketidakstabilan kadar glukosa darah b.d gangguan toleransi glukosa darah d.d pasien mengatakan lemas dan cepat merasah lelah, gula darah selalu tinggi (GDS: 290 mg/dL), | Setelah di lakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3x24 jam kestabilan kadar glukosa darah tidak terjadi. Kriteria hasil: Kestabilan kadar glukosa darah: 1. Kesadaran meningkat (5) 2. Pusing menurun (5) 3. Lelah/lesu menurun (5) 4. Keluhan lapar menurun (5) 5. Berkeringat menurun (5) 6. Kadar glukosa dalam darah membaik (5) 7. Kadar glukosa dalam urin membaik (5) | 1.Manajemen Hiperglikemia Observasi a.Identifkasi kemungkinan penyebab hiperglikemia b.Monitor kadar glukosa darah, jika perlu c.Monitor tanda dan gejala hiperglikemia (mis. poliuri, polidipsia, polivagia, kelemahan, malaise, pandangan kabur, sakit kepala) d.Monitor intake dan output cairan e.Monitor keton urine, kadar analisa gas darah, elektrolit, tekanan darah ortostatik dan frekuensi nadi Terapeutik a. Berikan asupan cairan oral | 1.Manajemen Hiperglikemia Observasi a. Sebagai acuan untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah b. Untuk mengetahui nilai normal kadar gula drah seta untuk memberikan intervensi selanjutnya c. Untuk mengetahui kestabilan kadar keton dalam urine dan mencegah terjadinya asidosis diabetic d. Untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien e. Untuk mengetahui dan memastikan nilai normal keton urin,Analisa gas darah,elektroloit, tekanan darah ortotastik dan frekuensi nadi Terapeutik a. Untuk menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh |
|
|
| b. Konsultasi dengan medis jika tanda dan gejala hiperglikemia tetap ada atau memburuk Edukasi a.Anjurkan monitor kadar glukosa darah secara mandiri b.Anjurkan kepatuhan terhadap diet dan olahraga c.Ajarkan pengelolaan diabetes (mis. penggunaan insulin, obat oral, monitor asupan cairan, penggantian karbohidrat, dan bantuan professional kesehatan) Kolaborasi a. Kolaborasi pemberian insulin, jika perlu b. Kolaborasi pemberian cairan IV, jika perlu 2. Edukasi Diet Observasi | b. Agar menghindari terjadinya keadaan yang memburuk dari pasien Edukasi a. Agar pasien mengetahui kadar glukosa dalam darah b. Untuk mengonontrol kdar glukosa dalam darah c. Meningkatkan pngetahuan dan pemahaman klien menganai DM dan untuk meningkatkan status kesehatan klien Kolaborasii a. Untuk menurunkan kadar gula darah yang meningkat b. Memenuhi kebutuhan cairan dan mencegah timbulnya keadaan gangguan elektrolit yang diakibatkan oleh peningkatan gula darah serta dehidrasi. 2. Edukasi Diet Observasi |
|
|
| a. Identifikasi tingkat pengetahuan saat ini b. Identifikasi kebiasaan pola makan saat ini dan masa lalu c. Identifikasi persepsi pasien dan keluarga tentang diet yang diprogramkan Terapiutik Sediakan rencana makan tertulis, jika perlu Edukasi a.Jelaskan tujuan kepatuhan diet terhadap kesehatan b.Informasikan makanan yang diperbolehkan dan dilarang c.Anjurkan mengganti bahan makanan sesuai denga diet yang diprogramkan d.Anjurkan melakukan olahraga sesuai toleransi 3. Manajemen Medikasi Observasi | a.Untuk mengukur pengetahuan pasien dan keluarga b.Untuk mengetahui penerimaan program yang akan di berikan c.Untuk mengetahui pemahaman dan penerimaan pasien dan keluarga tehadap program diwt yang di berikan Terapeutik Untuk memberikan pengetahuan program diet yang di berikan Edukasi a. Agar pasien dan keluarga mengetahui makanan-makanan yang masuk dalam program diet diabetes b. Untuk mempelanjar program diet yang di proramkan c. Untuk membimbing dan mengarahkan pasien pada gaya hidup sehat sesuai program yang di berikan d. Untuk menurunkan kadar glukosa dalam darah dengan melakukan olahraga ringan |
|
|
| a. Identifikasi penggunaan obat secara lengkap b. Identifikasi masa kadarluasa obat c. Monitor keefektifan dan efek samping pemberian obat d. Monitor tanda dan gejala keracunan obat e. Monitor kepatuhan menjalani program pengobatan Terapeutik a.Fasilitasi perubahan program pengobatan, jika perlu b.Fasilitasi pasien dan keluarga melakukan penyesuaian pola hidup akibat program pengobatan Edukasi a. Ajarkan pasien dan keluarga cara mengelola obat (dosis, penyimpanan, rute, dan waktu pemberian) b. Ajarkan cara menangani atau mengurangi efek samping, jika perlu | 3.Manajemen Medikasi Observasi a. Untuk memastikan ketepatan penggunaan obat b. Untuk mengetahui jangka waktu penggunaan obat agar aman di konsumsi c. Untuk mengetahui hasil yang baik dari meminum obat d. Untuk menghindari kesalahan penggunaan obat e. Agar obat dapat di minum sesuai dengan jadwalnya Terapeutik a. Agar pasien mampu mengup to date pengobatnannya b. Untuk memberikan program hidup sehat meski sedang mengkonsumsi obat Edukasi a. Untuk menghindari dari kesalahan pemberian obat |
|
|
| c. Anjurkan menghubungi petugas kesehatan jika terjadi efek samping obat 4.Yoga Observasi a.Identifikasi toleransi terhadap latihan b.Identifikasi jenis latihan dan gerakan yoga, sesuai kebutuhan Terapeutik a. Lakukan gerakan-gerakan yoga (mis. Bidalasana/cat stretch, janu sirsana, lying trist, nadi shodam) b. Atur frekuensi melakukan yoga, sesuai kemampuan Edukasi a. Jelaskan tujuan dan alasan latihan b. Demonstrasikan gerakan-gerakan yoga | b. Agar pasien dan keluarga mampu bersikab sigab dalam menghadapi efek samping obat c. Untuk menghindari terjadinya keparahan dari efek samping obat 4.Yoga Observasi a. Agar pasien dan keluarga mengetahui hal hal yang perlu di perhatikan pada saat melakukan yoga b. Memberi petunjuk pelatihan yoga yang akan di berikan Terapeutik a. Menginformasikan gerakan-gerakan yoga sesuai kondisi pasien b. Untuk menyesuaikan dengan kemampuan dan kondisi pasien Edukasi a. Agar pasien dan keluarga mengetahui manfaat dalam pemberian yoga b. Agar pasien lebih mudah mengikuti gerakan yoga yang di tunjukan |
|
|
|
|
|
1. | Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis d.d Pasien mengatakan nyeri pada area telapak kaki dan jari kaki yang luka. | Setelah di lakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3x24 jam kestabilan kadar glukosa darah tidak terjadi. Kriteria hasil: Tingkat Nyeri 1. Keluhan nyeri menurun (5) 2. Meringis menurun (5) 3. Anoreksia menurun (5) 4. Mual menurun (5) 5. Muntah menurun (5) 6. Frekuensi nadi membaik (5) 7. Frekuensi nadi membaik (5) 8. Pola nafas membaik (5) 9. Tekanan darah membaik (5) | 1. Manajemen Nyeri Observasi a. lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri b. Identifikasi skala nyeri c. Identifikasi respon nyeri nonverbal d. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri e. Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup f. Monitor efek samping penggunaan analgetik Terapeutik g. Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hypnosis, akupresur, terapi musik, biofeedback, terapi | 1.Manajemen Nyeri Observasi a. Untuk mengetahui letak, tingkatan, serta kualitas nyeri yang di rasahkan pasien b. Untuk mengetahui kualitas nyeri yang di rasahkan c. Untuk mengetahui pengalaman nyeri yang di rasahkan d. Untuk mengidentifikasi faktor pemicu nyeri e. Untuk melihat perubahan hidup akibat nyeri yang di rasahkan f. Untuk melihat kualitas obat yang di berikan Terapeutik a. Untuk menjelaskan teknik-teknik yang mampu mengurangi rasah nyeri yang di rasahkan b. Memberikan tempat dan waktu untuk istirahat Edukasi |
|
| 10. Fungsi berkemih membaik (5) | pijat, aroma terapi, teknik imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain) h. Fasilitasi istirahat dan tidur Edukasi i. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri j. Jelaskan strategi meredakan nyeri k. Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu 1. Pemberian Analgesik Observasi A. Identifikasi karakteristik nyeri (mis. Pencetus, pereda, kualitas, lokasi, intensitas, frekuensi, durasi) B. Identifikasi riwayat alergi obat C. Identifikasi kesesuaian jenis analgesik (mis. Narkotika, non | a. Memberikan pengetahuan dan pemahaman pada pasien tentang pengaruh penyakit terhadap nyeri yang di alami b. Memberikan pertimbangan yang efektif untuk mengurangi rasah nyeri yang di rasahkan c. Agar pasien mengetahui teknik-teknik pengurangan rasah nyeri selain pemberian obat analgetik Kolaborasi Agar mengurangi rasah nyeri yang di alami 2.Pemberian Analgesik Observasi d. Untuk mengetahui faktor pencetus terjadinya nyeri e. Untuk mengetahui obat-obat yang dapat mengakibatkan alergi bagi pasien f. Untuk memastikan obat yang akan di konsumsi oleh pasien |
|
|
| narkotika, atau NSAID) dengan tingkat keparahan nyeri D. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah pemberian analgesic E. Monitor efektifitas analgesik Terapeutik a. Pertimbangkan penggunaan infus kontinu, atau bolus opioid untuk mempertahankan kadar dalam serum b. Tetapkan target efektifitas analgesik untuk mengoptimalkan respon pasien c. Dokumentasikan respon terhadap efek analgesik dan efek yang tidak diinginkan Edukasi Jelaskan efek terapi dan efek samping obat Kolaborasi Kolaborasi pemberian dosis dan jenis analgesik, sesuai indikasi | g. Untuk mengetahui kondisi pasien saat akan di berikan obat h. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari obat yang di berikan Terapeutik a. Agar kadar cairan dalam tubuh pasien tetap seimbang b. Untuk menetapkan obat analgesic yang sudah sesuai dengan pasien c. Agar memperoleh data yang pasti terhadap efektifitas analgesic yang diberikan Edukasi Agar pasien dan keluarga mengetahui pengaruh obat yang di berikan Kolaborasi Dapat mempengaruhi kualitas obat yang diberikan |
|
|
| 2. Aroma Terapi Observasi A. Identifikasi pilihan aroma yang di sukai dan tidak di sukai B. Identifikasi tingkat nyeri, stress, dan alam perasaan sebelum dan sesudah aroma terapi C. Monitor ketidak nyamanan sebelum dan sesudah pemberian (mual, pusing) D. Monitor tanda-tanda vital sebelum dan sesudah eroma terapi Terapeutik a. Pilih minyak esensial yang tepat sesuai dengan indikasi b. Lakukan uji kepekaan kulit dengan uji tempel (patch test) dengan larutan 2% pada daerah lipatan lengan belakang leher | 3. Aroma Terapi Observasi a.Untuk di sesuaikan dengan kenyamanan dari pasien b.Hal ini di lakukan untuk membandingkan kefefektifan dari pemberian aroma terapi pada pasien c.Hal ini di lakukan agar melihat respon pasien selama pemberian aroma terapi d.Pengecekan kembali TTV ini di lakukan agar mengetahui kondisi pasien sebelum melakukan terapi pada pasien Terapeutik a. Pemilihan ini di lakukan untuk menghindari efek dari kondisi pasien b. Pengujian ini di maksudkan agar menghindari efek alergi atau ketidak nyamanan minyak esensial ini pada pasien c. Metode ini di lakukan agar pasien dapat merasahkan sensasi nyaman dan rileksasi Edukasi |
|
|
| c. Berikan minyak esensial dengan metode yang tepat (mis, inhalasi, pemijatan, mandi uap, atau kompres) Edukasi Anjurkan menggunakan minyak esensial secara bervariasi Kolaborasi Konsultasikan jenis dan dosiis minyak esensial yang tepat dan aman 4. Terapi pemijatan Observasi a. Identifikasi kontraindikasi terapi pemijatan (mis, penurunan trombosit, tumor, dan hidpersensitivitas terhadap sentuhan) b. Identifikasi kesediaan dan penerimaan di lakukan pemijatan c. Monitor respon terhadap pemijatan Terapeutik a.Tetapkanlah jangka waktu pemijatan b.Pilih area tubuh yang akan di pijat | Penggunaan minyak esesnsial yang bervariasi ini bertujuan agar pasien tidak merasah bosan Kolaborasi Tujuan mengkonsultasikan minyak esensial ini agar menghindari dari efek samping terhadap pasien 4. Terapi Pemijatan Observasi a. Mengidentifikasi ini bertujuan untuk melihat efek samping dari pemberian terapi pemijatanbagi pasien b. Melakukan kontrak waktu untuk memperoleh persetujuan dari pasien dalam melakukan pemijatan c. Pemonitoran ini bertujuan untuk melihat respon pasien selama di lakukan pemijatan Terapeutik |
|
|
| c.Cuci tangan dengan air hangat d.Gunakan lotion atau minyak untuk mengurangi gesekan (perhatikan kontraindikasi penggunaan lotion atau minyak tertentu pada tiap individu) e.Lakukan pemijatan secara perlahan f. Lakukan pemijatan dengan teknik yang tepat Edukasi a. Jelaskan tujuan dan prosdur terapi b. Anjurkan beristirahat setelah pemijatan | a. Penentuan jangka waktu ini di maksudkan agar pemijatan tidak berjalan lama sesuai dengan koondisi pasien b. Untuk menentukan titik yang benar pada tubuh pasien agar mendapatkan hasil yang maksimal c. Agar memberikan sensasi hangat ketika menyentuh tubuh pasien d. Agar tubuh pasien tetap lembab dan tidak kering saat di lakukan pemijatan e. Untuk memberikan sensasi rileks dan nyaman pada tubuh pasien f. Agar pasien tidak merasah tegang atau kaku selama di lakukan pemijataan Edukasi a.Agar pasien mengetahui prosedur tindakan yang akan di lakukan b.Untuk memberikan sensasi nyaman pada pasien |
2. | Gangguan integritas kulit/jaringan b.d penurunan mobilitas d.d Pasien mengatakan daerah telapak kakinya bengkak, dan merah juga ada luka dijari tengah kaki | Setelah di lakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3x24 jam kestabilan kadar glukosa darah tidak terjadi. Kriteria hasil: Integritas Kulit dan Jaringan 1. Elastisitas meningkat (5) 2. Hidrasi meningkat (5) 3. Perfusi jaringan meningkat (5) 4. Kerusakan jaringan menurun (5) 5. Kerusakan lapisan kulit menurun (5) 6. Kemerahan menurun (5) 7. Hematoma menurun (5) | 1. Perawatan Luka Observasi a. Monitor karakteristik luka (mis, drainase, warna, ukuran, bau) b. Monitor tanda-tanda infeksi Terapeutik a. Lepaskan balutan dan plester secara perlahan b. Bersihkan dengan cairan NaCl atau pembersih nontoksik, sesuai kebutuhan c. Bersihkan jaringan nekrotik d. Berikan salep yang sesuai ke kulit atau lesi, jika perlu e. Pasang balutan sesuai jenis luka Edukasi a. Jelaskan tanda dan gejala infeksi b. Anjurkan makanan tinggi kalori dan preotein c. Ajarkan prosedur perawatan luka secara mandiri | 1. Perawatan Luka Observasi a. Hal ini di lakukan untuk melihat keparahan dari luka b. Untuk mengetahui seberapa besar dan dalam luka yang di miliki pasien Terapeutik a. Tindakan ini bertujuan untuk mengganti balutan dengan perlahan agar pasien tidak merasahkan satkit saat melepaskannya b. Tindakaan ini di lakukan ntuk menjaga kebersihan luka untuk mecegah infeksi c. Tindakaan ini di lakukan untuk mebersihkan jaringan mati untuk mempermudah pertumbuhan jaringan baru d. Tindakan ini untuk mencegah terjadinya infeksi pada luka dan mengeringkan luka e. Tindakan ini dilakukan untuk menjaga luka agar tetap bersih Edukasi |
|
| 8. Jaringan parut menurun (5) 9. Nekrosis menurun (5) 10. Suhu kulit membaik (5) 11. Sensasi membaik (5) | Kolaborasi Kolaborasi pemberian antibiotik, jika perlu 2. Edukasi Perawatan Diri Observasi a. Identifikasi pengetahuan tentang perawatan diri b. Identifikasi masalah atau hambatan perawatan diri yang di alami Terapeutik | a. Pemberian informasi ini bertujuan agar pasien dan keluarga mengetahui dampak dari terjadinya infeksi pada luka b. Pemberian makanan ini untuk mempercepat kesembuhan dari luka c. Tindakan ini dimaksudkan agar pasien dan keluarga dapat melakukan perawatan luka secara mandiri di rumah Kolaborasi Pemberian obat bertujuan untuk mencegah infeksi dan gejala infeksi pada pasien 2. Edukasi Perawatan Diri Observasi a. Menilai sebarapa jau pemahaman pasien dan keluarga tentang perawatan diri b. Hal ini di lakukan untuk menggali informasi tentang hambatan pada saat perawatan diri secara mandiri Terapeutik |
|
|
| a. Rencanakan strategi edukasi, termaksud tujuan yang realistis b. Sediakan lingkungan yang kondusif pembelajaran optimal (mis, di ruang kelas atau ruang terapi yang kosong) Edukasi a. Ajarkan perawatan mandiri, praktik perawatan diri, dan aktifitas kehidupan sehari-hari b. Anjurkan mengulang kembali informasi edukasi tentang perawataan mandiri 3. Edukasi Perawatan Kulit Observasi Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi Terapeutik a. Sediakan materi dan media Pendidikan kesehatan | a. Hal ini di lakukan agar mempunyai program atau rencana dedukasi b. Hal ini dilakukan untuk memberikan suasana yang nyaman dan tenang bagi pasien dan keluarga Edukasi a. Hal ini bertujuan agar pasien dan keluarga mampu melakukan perawatan secara mandiri di rumah dengan benar b. Hal ini di lakukan untukmengingatkan kembali dan meninjau kembali apakah pasien dan keluarga telah memahami edukasi yang diberikan 3. Edukasi Perawatan Kulit Observasi Hal ini dilakukuan untuk mengetahui kesiapan pasien dan keluarga dalam menerima edukasi yang akan di berikan Terapeutik |
|
|
| b. Jadwalkan Pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan c. Berikan kesempatan untuk bertanya Edukasi a. Anjurkan minum cukup air b. Ajnjurkan mandi dan menggunakan sabun secukupnya c. Anjurkan menggunakan pelembab 4. Latihan Rentang Gerak Observasi a.Identifikasi indikasi di lakukan latihan | a. Agar pemberi edukasi dapat mempersiapan informasi bagi pasien dan keluarga dengan baik b. Agar pasien dan keluarga siap untuk mendapatkan informasi c. Untuk menggali kembali pengetahuan dan pemahaman pasien dan kelurga terhadap penyakit yang di derita Edukasi a. Hal ini berguna untuk mecegah terjadinya dehidrasi pada pasien b. Hal ini di lakukan agar mencegah terjadinya infeksi yang akan masuk dan meningkatkan kebersihan c. Untuk mencegah kulit menjadi kering 3. Latihan Rentang gerak Observasi a. Hal ini di lakukan untuk mencegah terjadinya keparahan pada pasien saat di lakukan latihan rentang gerak |
|
|
| b.Identifikasi keterbatasan pergerakan sendi c.Monitor ketidaknyamanan atau nyeri pada saat bergerak Terapeutik a. Gunakan pakaian yang longgar b. Cegah terjadinya cedera selama latihan rntang gerak di lakukan c. Fasilitasi gerakan pasif dengan bantuan sesuai indikasi d. Berikan dukungan positif pada saat melakukan latihan gerak sendi Edukasi a. Jelaskan tujuan dan prosedur latihan b. Anjurkan melakukan rentang gerak pasif dan aktif secara sistematis | b. Hal ini dilakukan untuk mengetahui rentang gerak dari pasien yang bermasalah c. Hal ini di lakukan untuk mencegah keparahan saat melakukan latihan rentang gerak Terapeutik a.Hal ini bertujuan agar pasien mampu bergerak dengan bebas b.Untuk melatih pergerakan pasien c.Hal ini bertujuan agar pasien mendapatkan dukungan penuh dari pelatih atau keluarga yang melakukan latihan rentang gerak Edukasi a. Agar pasien dan keluarga mengetahui tindakan-tindakan yang akan di demonstrasikan b. Untuk melatih pergerakan pasien agar tidak kaku |
4. | Risiko Infeksi d.d penyakit kronis | Setelah di lakukan tindakan keperawatan | 1. Pencegahan Infeksi Observasi | 1. Pencegahan Infeksi Observasi |
| (diabetes melitus), Tekanan darah: 130/60 mmHg, di lengan kanan, Nadi: 65x/ menit, di arteri radialis, teratur, Suhu: 38,0C per axilla, Pernafasan: 24x/ menit. Jenis pernafasan spontan, HR 65x/ menit kuat teratur. | dalam waktu 3x24 jam kestabilan kadar glukosa darah tidak terjadi. Kriteria hasil: Tingkat Infeksi 1. Demam menurun (5) 2. Kemerahan menurun (5) 3. Nyeri menurun (5) 4. Bengkak menurun (5) 5. Cairan berbau busuk menurun (5) 6. Kadar sel darah putih mambaik (5) 7. Kultur darah mambaik (5) 8. Kultur area luka mambaik (5) 9. Kadar sel darah putih mambaik (5) | Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik Terapeutik Berikan perawatan kulit pada daerah edema Edukasi a. Jelaskan tanda dan gejala infeksi b. Ajarkan cara memriksa kondisi luka atau luka operasi 2. Edukasi Pencegahaan Luka tekan Observasi Identifikasi gangguan fisik yang mungkin terjadinya luka tekan Edukasi a. Jelaskan lokasi-lokasi yang sering terjadi luka tekan (mis, tumit, tulang ekor, bahu, telinga) b. Ajarkan mengidentifikasi faktor faktor penyebab terjadinya luka tekan | Untuk mengetahui lokasi terdapatnya luka dan adanya infeksi Terapeutik Hal ini di lakukan untuk menurunkan edema yang ada Edukasi a. Agar pasien dan keluarga mengetahui gejala dan tanda infeksi b. Hal ini di laukan untuk mencegah infeksi dan menjaga luka agar tetap kering 2. Edukasi Pencegahaan Luka tekan Observasi Untuk mengetahui hal-hal yang memungkinkan terjadinya luka tekan Edukasi a. Agar pasien dan keluarga mengetahui tempat dan letak terjadinya luka tekan b. Agar pasien dan keluarga mengetahui hal hal yang menyebabkan terjadinya luka tekan |
|
|
| c. Ajarkan cara mempertahankan permukaan kulit sehat, identifikasi kerusakan permukaan kulit seperti merah, panas, bula, eksudat d. Anjurkan tetap bergerak sesuai kemampuan dan kondisi e. Demontrasikan cara-cara meningkatkan sirkulasi pada titik titik lokasi tertekan (mis, pemijatan, obah posisi miring kanan miring kiri, supine) 3. Manajemen Nutrisi Observasi a. Identifikasi status nutrisi b. Monitor asupan makanan c. Monitor berat badan d. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium Terapeutik a. Fasilitasi menentukan pedoman diet (mis, piramida makanan) | c. Agar pasien dan keluarga mengetahui cara menjaga kulit sehingga tidak terjadi luka tekan d. Agar otot tubuh tidak mengalami kekakuan e. Agar pasien dan keluarga mengetahui cara cara meningkatkan sirkulasi pada daerah luak tekan 3. Manajemen Nutrisi Observasi a. Untuk mempertahankan nutrisi yang seimbang bagi pasien b. Agar menjaga pasokan makanan pasien tetap seimbang c. Untuk mempertahankan berat badan pasien yang tetap normal d. Agar pasien dapat menjagah keseimbangan tubuh tetap sehat Terapeutik a. Agar menjadi sumber dukungan bagi pasien dalam menjaga nutrisi pada pasien b. Untuk mempercepat kesembuhan pada luka |
|
|
| b. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein Edukasi Anjurkan diet yang di programkan Kolaborasi Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrient yang di butuhkan, jika perlu 4. Pencegahaan Luka tekan Observasi a. Periksa luka tekan dengan menggunakan skala (mis, skala noton, skala bradon) b. Periksa adanya luka tekan sebelumnya c. Monitor suhu kulit yang tertekan d. Monitor berat badan dan perubahannya e. Monitor ketat area yang memerah f. Monitor mobilitas dan aktivitas individu | Edukasi Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga keseimbangan makanan dan nutrisi yang baik bagi pasien Kolaborasi Agar pasien dan keluarga mengetahui hal-hal penting terkait makanan sehat bagi pasien 4. Pencegahaan Luka tekan Observasi a.Untuk mengetahui tingkatan atau pelebaran pada luka tekan b. Untuk mengetahui apakah masih terdapat luka tekan yang terdapat pada pasien c. Untuk memastikan tidak terjadinya infeksi pada luka tekan pasien d. Untuk mengontrol berat badan pasien e. Untuk mencegah terjadinya infeksi yang lebih berlanjut f. Untuk mencegah pasien terjatuh saat melakukan mobilitas Terapeutik |
|
|
| Terapeutik a. Keringkan daerah kulit yang lembab akibat keringat, cairan luka dan inkontinensia fekal atau urin b. Gunakan barrier seperti lotion atau bantalan penyerap air c. Berikan bantalan pada titik tekan atau tonjolan tulang d. Hindari menggunakan air hangat dan sabun keras saat mandi e. Pastikan asupan makanan yang cukup terutama protein, vitamin B dan C, zat besi, dan kalori Edukasi a. Jelaskan tanda-tanda kerusakan kulit b. Anjurkan melapor jika menemukan tanda-tanda kerusakan kulit c. Ajarkan cara merawat kulit | a. Untuk mencegah terjadinya iritasi pada kulit pasien b. Agar menjaga luka pasien agar tetap kering c. Agar mencegah penekanan pada luka d. Agar menghindari dari gesekan atau mencegah luka melepu e. Untuk menjaga kestabilan nutrisi bagi pasien Edukasi a. Agar pasien dan keluarga mengetahui tanda dari kerusakan kulit b. Untuk mencegah keparahan kerusakan kulit pada pasien c. Agar pasien dan kelurga mampu merawat luka secara mandiri |
5. | Perfusi perifer tidak efektif b.d penurunan konsentrasi | Setelah di lakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3x24 jam | 1. Manajemen Cairan Observasi | 1. Manajemen Cairan Observasi |
| hemoglobin d.d kadar hemoglobin 7,4 g/dl, Tekanan darah: 130/60 mmHg, di lengan kanan, Nadi: 65x/ menit, di arteri radialis, teratur, Suhu: 38,0C per axilla, Pernafasan: 24x/ menit. | kestabilan kadar glukosa darah tidak terjadi. Kriteria hasil: Perfusi Perifer 1. Penyembuhan luka meningkat (5) 2. Edema perifer menurun (5) 3. Nyeri ekstermitas menurun (5) 4. Kelemahan otot menurun (5) 5. Akral membaik (5) 6. Turgor kulit membaik (5) | a. Monitor status hidrasi (mis, frekuensi nadi, kekuatan nadi, akral, pengisian kapiler, kelembaban mukosa, turgor kulit, tekanan dara) b. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (mis, hematocrit, Na, K, CI, berat jenis urin, BUN) Terapeutik a. Catat intake-output dan hitung balans cairan 24 jam b. Berikan asupan cairan sesuai kebutuhan c. Berikan cairan intervena, jika perlu Kolaborasi Kolaborasi pemberian diuretik 2. Manajemen Syok Observasi a. Monitor status kardiopulmonal (frekuansi dan kekuatan nadi, frekuensi nafas, TD, MAP) | a.Tindakan ini bertujuan untuk mencegah dehidrasi yang berat bagi pasien b.Untuk mengetahui kondisi kesehatan pasien Terapeutik a. Untuk mengetahui balance cairan dalam tubuh pasien b. Untuk memberikan keseimbangan cairan pada tubuh pasien c. Untuk memberikan pemenuhan cairan pada pasien saat mengalami kekurangan cairan Kolaborasi Untuk membuang kelebihan garam dan air dalam tubuh melalui urin 2. Manajemen Syok Observasi a. Untuk mengetahui fungsi jantung dalam tubuh b. Untuk mensuplai kadar oksigen dalam tubuh c. Untuk mengetahui DOTS dalam tubuh pasien |
|
|
| b. Monitor status oksigen (oksimetri nadi, AGD) c. Periksa seluruh permukaan tubuh terhdap adanya DOTS (deformility atau deformitas, open wound atau luka terbuka, tenderness atau luka tekan, swelling/bengkak) Terapeutik a. Pertahankan jalan nafas paten b. Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen>94% Kolaborasi Kolaborasi pemberian tranfusi darah, jika perlu 3. Pemantauan Hasil Laboratorium Observasi a. Identifikasi pemeriksaan laboratorium yang di perlukan b. Monitor hasil laboratorium yang di perlukan | Terapeuti a. Untuk mempertahankan kepatenan oksigen dalam tubuh b. Untuk memenuhi kepatenan jalan nafas pada tubuh pasien Kolaborasi Untuk memenuhi kebutuhan darah dalam tubuh pasien 3. Pemantauan Hasil Laboratorium Observasi a.Untuk mendektesi keadaan pasien dengan tes laboratorium b. Untuk mengontrol keadaan pasien Terapeutik a. Untuk mengecek tes laboratorium pasien b. Agar pasien dan keluarga mengetahui hasil tes yang di lakukan Kolaborasi Agar memperoleh tindakan keperawatan bagi pasien 4. Perawatan Kaki |
|
|
| Terapeutik a. Ambil sample darah /sputum/pus/jaringan atau lainnya sesuai protocol b. Interpretasikan hasil pemeriksaan laboratorium Kolaborasi Kolaborasi dengan dokter jika hasil laboratorium memerlukan intervensi media 4. Perawatan Kaki Observasi a. Identifikasi perawatan kaki yang bisah di lakukan b. Periksa adanya iritasi, retak, lesi, kapalan, kelainan bentuk, atau edema c. Monitor infusiensi arteri kaki dengan pengukuran ankle-brachial index (ABI) terutama pada usia ≥50 tahun | Observasi a. Untuk mencegah efek samping terjadinya infeksi pada pasien b. Agar pasien mendapatkan perawatan pada luka di kaki c. Untuk membandingkan ukuran sistolik pada pergelangan kaki d. Untuk mengetahui kondsi gula darah dalam tubuh pasien Terapeutik a. Agar menjaga kaki pasien tetap lembab dan kering b. Untuk menjaga kestabilan kelembaban pada kaki pasien c. Agar luka pada kaki pasien tetap bersih dan menjegah terjadinya infeksi pada kaki pasien Edukasi Hal ini di anjurkan agar mengurangi pembekakan dan gesekan serta tekanan yang berlebihan pada luka di area kaki |
|
|
| d. Monitor kadar gula darah atau nilai HbA 1c<7% Terapeutik a. Keringkan sela-sela jari kaki b. Berikan pelembab kaki sesuai kebutuhan c. Lakukan perawatan luka sesuai kebutuhan Edukasi Anjurkan menghindari penekanan pada kaki yang mengalami ulkus dengan menggunkan tongkat atau sepatu khusus |
|
Komentar
Posting Komentar